PERPADUAN DUA WARNA YANG BEDA DALAM
CINTA
Bener, 22 Agustus 2014. Semester 7
Dalam menjalin sebuah hubungan cinta,
perbedaan mesti terjadi. Tidak ada yang bisa memungkiri. Bahkan pasangan yang
paling romantis seduniapun pasti mengeluhkan adanya perbedaan antara mereka
berdua. ”Ya nggak sih? Nggak ya? Hehe, ya udah deh nyerah.”
Kita teruskan saja, dengan adanya
perbedaan bukanlah menjadi sebuah masalah/konflik yang berkepanjangan. Tetapi
seharusnya menjadi hal yang saling melengkapi. Sehingga konflik itu menjadi hal
yang indah terasa. Saling percaya dengan adanya perbedaan.
Saling menghormati pendapatlah!
Jangan bertengkar! Karena pertengkaran itu tidak menyelesaikan konflik, bahkan
bagi orang-orang yang temperamen justru akan memperparah konflik itu sendiri.
Sehingga solusi tidak akan ditemukan tetapi masalah yang awalnya kecil akan
bertambah besar.
Tawadhu’ terhadap pasangan juga
sangat diperlukan. Karena dengan sikap seperti itu
tidak akan memunculkan suatu
konflik tetapi akan meredam emosi masing-masing dan menetralkan konflik. Sopo
sing wani komplain? Haha.
Perbedaan warna sikap dan sifat dari
masing-masing pasangan jika dipadukan akan menjadi pelangi di altar istana
cinta. Jika perbedaan diangggap sebagai rahmat. Ciyee! Bukan malah
menjadi coretan abstrak di lukisan surealis. Yang mengganggu, dan tidak enak
dilihat. Itulah perbedaan yang dianggap sebagai konflik.
Hal ini juga berlaku di ormas-ormas
keagamaan yang berbeda visi-misinya. Jika perbedaan itu menjadikan
masing-masing itu bersatu dan saling melengkapi, maka keindahan akan muncul.
Tetapi jika kress karena perbedaan, maka konflikpun akan pecah. Bahkan saling
mengejek, saling menjatuhkan, atau saling saling membunuh bisa saja terjadi.
Toleransi, tawadhu’, saling percaya, saling mencintai, dan saling menghormati
akan menciptakan suasana kedamaian abadi. Percaya atau nggak percaya, kalian
harus percaya! Loh kok malah maksa. Haha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar