Sabtu, 24 Februari 2018

lanjutan novel: Romansa Cinta

Ahmad Tohari, dulu nama kecilnya adalah Jarot. Jarot dalam kamus Jawa Kawi berarti perkasa, kuat. Karena sejak lahir, tulang yang menyusun tubuhnya besar dan dia juga dianugerahi daging yang tebal. Seperti ikan tongkol dalam bahasa ikan. Masa kecil Jarot begitu menyenangkan. Dia sering dibelikan mainan kesukaannya mulai dari truk pasir dari kayu, layang-layang, kelereng, bola sepak hingga robot yang mampu berjalan sendiri. Belum ada mobil remote control ketika itu, tetapi mobil dengan baterai sudah cukup menghiburnya ketika itu. Dia juga sering diajak jalan-jalan ke kebun binatang, candi-candi dan juga wisata air oleh orang tuanya. Sayangnya, sejak pertengkaran antara ayah dan ibunya memuncak (masalah nafkah kurang karena terbiasa hidup mewah dan terguncang krisis moneter ‘98), kebahagiaan Jarot tercerabut hingga ke akarnya. Yang Jarot dengar di rumahnya hanyalah cek-cok yang tiada habisnya. Piring-piring yang jatuh akibat dibanting dari rak ke lantai. Luka goresan atau tamparan yang melayang di pipi ibunya sering dia lihat. Bahkan terkadang dia juga menjadi korban penganiyaaan. Membuat Jarot remaja mengambil kesimpulan bahwa dia harus mendapatkan cinta, apapun jalan yang harus ditempuh olehnya.
Maka dalam perjalananan hidupnya sampai orangtuanya diceraikan oleh pihak pengadilan, dan dia dititipkan di pesantren Al-Huda, dia mencoba untuk cari perhatian dengan segala usaha. Mulai dari menjadi tukang cuci pakaian santri hingga menjadi tukang kebun seperti sekarang ini. Pekerjaan yang dijalaninya hingga kini mengantarkan dia melihat sekaligus mengenal Umi Kulsum dari jauh, gadis idaman hatinya itu.
Jarot, menurut Abah adalah nama yang kurang pas untuk pribadi lembut seperti dia. Dia sering membantu santriwati menyiram bunga mawar di depan teras pesantren. Dia juga sering membawakan belanja berupa sayuran dan sembako jika Neng Fatimah tampak letih. Dia juga sering membantu abah untuk mengisi air di bak mandi santri putri. Meski begitu, dia tidak pernah mengaji bersama para santri lain dan tidak pernah menaruh hati pada Neng Fatimah. Baginya, mungkin aib jika mencintai putri abah.
Maka di suatu hari yang baik karena membarengi hajatan akhirussanah pesantren, Abah Rasyid memberikannya nama: Ahmad Tohari agar menjadi pribadi yang mulia dan terpuji. Tetapi apakah dia akan seperti yang diinginkan oleh abah berdasarkan namanya yang bagus itu? Wallohu a’lam. Setiap orang berharap dia akan menjadi anak yang baik.

1.      Dari Kantin Pesantren hingga ke Kamar Mandi

Warung makan Bang Tegar senantiasa menjadi gula bagi semut-semut kecil yang imut itu. Termasuk aku yang menjadi ghonthengnya. Karena keenakan dan kesedapan resep masakannya, Bang Tegar juga terkenal ramah dan penuh perhatian terhadap masalah-masalah yang lagi ngehits di kalangan pelajar atau pemuda/i. Apa itu? Cinta. Aku sering curhat padanya. Tidak lain yang kubicarakan adalah dua gadis yang ada di sekitarku, mereka adalah Neng Fatimah dan Dik Umi. Akan tetapi aku lebih sering cerita tentang Neng Fatimah. Karena bagiku, Dik Umi hanyalah

Sabtu, 13 Januari 2018

Romansa Cinta 1

1.      Pertemuan Dua Hati
(terinspirasi dari perjalananku 3 bulan lalu ke PP. Al-Husain, Magelang)

Aku masih teringat dengan kejadian lima tahun yang lalu ketika aku mendaftar di pesantren ini. Ketika itu aku duduk di sekretariat dan melihat-lihat administrasi masuk pesantren. Begitu banyak dan membuatku lemas. Birokrasi di Indonesia masih saja berbelit-belit jika ingin menuju puncak kesuksesan. Ingin derajat diangkat? Ya harus berjuang mati-matian guna mendapatkannya. Lalu yang kulakukan waktu itu adalah berjuang melengkapi persyaratan baik yang administratif maupun akademis. Semua kelar dalam kurun waktu seminggu. Alhamdulillah, alam masih mendukungku untuk tetap bertahan di atas bumi ini.
 Satu hal yang masih terus bersarang di otakku adalah ketika itu pagi hari. Awan begitu sedikit di langit yang biru. Anginpun berhembus sepoi pelan. Burung-burung lebih memilih berkicau di dahan pepohonan yang rindang itu. Hawa waktu itu sedikit hangat, sehingga bunga-bunga sedia untuk mekar. Aroma harum tercium sebentar-sebentar jika tertiup angin. Segar di hidung yang sempit ini. Ada bidadari lewat: Neng Fatimah. Dia adalah cahaya dalam hari ini. Kupu-kupu dengan sayap yang warna-warni. Seperti ingin ditangkap saja. Dia bagaikan salju bersih yang belum mendarat ke tanah. Dialah angin yang bersama awan kemanapun. Mungkin akulah awannya. Entah kenapa degub jantung ini bertembah ritmenya dan aku bisa sepuitis ini padahal aku tidak belajar sastra secara intens. Entahlah rasa cinta ini sepertinya yang akan memperkuat segalanya di hidupku di hari-hari selanjutnya.
*******
Hari Senin pagi, adalah awal dari aktivitas setiap manusia di bumi ini. Aktivitas apapun mulai dari bermain bagi anak-anak PAUD, belajar bagi kaum pelajar dan mahasiswa-santri, serta seorang pekerja yang seperti aku ini. Begitu pula bagi dewan pengasuh PP. Al-Huda, mereka mengabdikan diri untuk mencerdaskan bangsa demi persiapan masa depan negeri yang lebih baik. Hari Senin adalah hari teristimewa bagiku. Karena dapat satu majelis ilmu dengan Neng Fatimah (hatiku kala itu masih dipenuhi oleh ego rendah). Majelis tafsir hadits bersama Abah Yai Rasyid. Mata pelajaran terfavorit di pesantrem bagi kami para santri yang ingin mengkorelasikan dunia nyata dengan hukum-hukum klasik, atau menganalisa hikmah yang terungkap dalam kisah-kisah riwayat Rasulullah sebagai pedoman hidup dan pelita dalam berjuang di dunia ini.
Pagi ini cerah berawan. Kata berita cuaca di TV saat aku sarapan setelah mengikuti majelis ilmu. Ya, mungkin secerah hatiku saat ini. Aku bisa melihat sekilas wajah Neng Fatimah yang lewat di dapur saat aku melahap masakan buatannya. Ini adalah menu untuk calon suami, dan akan menguatkanku saat mengajar nanti hingga sore hari. <pikirku kePDan kala itu>. Wajah ayu bersih yang meneduhkan dan menundukkan nafsu itu sangat kurindui. Jilbab kurung berwarna biru tua, favoritku. Wajah yang memancarkan cahaya bekas wudhu. Benar-benar shalihah gadis satu ini. Jika aku bisa menjadi suaminya, pasti aku akan bahagia dunia akhirat. Intinya, aku akan menjadi semakin baik pula berkat dukungannya. Cinta adalah anugerah dari-Nya yang cukup besar bagiku. Jadi tak perlu kutolak mentah-mentah dong.
Tetapi pikiranku kembali mengakar, aku mah siapa atuh? Hanya debu yang siap diterbangkan angin di padang sahara yang sangat luas. Bahkan jika disamakan dengan debu neraka saja aku tak sebanding. Tidak berarti apa-apa jika dibandingkan dengannya. Nyaliku kembali ciut dan kemudian aku perbanyak membaca kalimah istighfar pada-Nya. Sang Maha Cinta. Aku harus banyak-banyak refleksi, muhasabah dan memperbaiki akhlak dan ilmu agama serta bekal diri jika ingin mendapatkan istri semulia dia, “ Ah Neng Fatimah… kamu membuatku mabuk cinta.” Aku mulai mengigau karena aku sadar aku kesiangan. Baru bangun dari tidur panjangku. Aku ingat semalam aku begadang bersama Kang Sulaiman membahas masa depan bangsa dan agama ini. Aku berkesempatan tidur baru pada pukul 02.00 WIB dini hari.
“Wah gawat, sudah bakda shubuh!” teriakku saat terbangun kesiangan. Aku harus segera menarik handuk dari tali jemuran pakaian menuju kamar mandi. Aku mandi, berwudhu, menunaikan shalat shubuh di kamar dan menstater motorku (memanaskan mesinnya) guna persiapan berangkat ke MI!” kataku tergesa-gesa mengambil sandal dari longan kasur. <Bodoh, bodoh, bodoh! Dibodohi oleh mimpi tentang cinta abstrak!> Bisik syetan mengejekku dari bilik hati sebelah kiri. Aku merengut sambil kembali ke kamar untuk melipati selimut dan jaket tidur.
“MasyaAllah, tidak ada yang berani membangunkanku!” teriakku kesal meski terdengar pelan sambil melihat sekeliling. Para santri sudah siap dengan seragam SMP dan SMKnya. Sementara aku yang diamanahi sebagai lurah kamar masih enak-enakan tidur sedari tadi. Innalillah! Ini mah bukan pagi yang cerah, tetapi awal dari sialnya aku kelak di akhirat. Pikirku mencaci diriku sendiri. Beginilah jadinya jika terlalu dalam tenggelam dalam telaga merah jambu ketika berdakwah di pesantren.
“Aku harus bertaubat mulai sekarang. Kalau perlu taubat yang nashuha. Aku harus selesaikan dulu tujuan impianku terdekat ini. Tidak boleh lagi terpikirkan oleh abstraksi cinta.” Tekadku dalam hati. Aku berjalan ke motorku yang baru: Vixion. Dalam shalat shubuhku tadi aku pasrah. Dalam do’aku aku memohon:
“Ya Allah Yang Maha Pengampun, Ampuni dosa-dosa Hamba, hapus segala kesalahan Hamba, kuatkanlah Hamba di jalan dakwah ini, tegarkanlah dan bersih hati dalam membentengi diri dari hal-hal yang menggoyahkan terutama cinta ini! Karena hanya kepada Engkau Hamba meratap dan memohon ampunan. Semoga ke depan lebih baik. Amiin.” Aku mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahku yang masih tersisa bekas tidur kesiangan. Aku kusut dan merasa tenang ketika mulai berdzikir “Ya Lathif” sebanyak seribu kali sambil mengoperasikan motor ini ke jalanan yang padat kendaraan. Tidak ada yang mengganggu meski aku

Rabu, 27 Desember 2017

tugas artikel Prof. Zakiyuddin

Urgensi Studi Islam Interdisipliner di Era Milenial
Oleh: Nur Salim (12010170033)
(Mahasiswa Pascasarjana Manajemen PAI IAIN Salatiga Kelas B 2017)

A.    Latar Belakang Masalah
Setelah menjalani perkuliahan Pendekatan Metode dan Studi Islam, penulis merasa ada yang perlu diperhatikan dari beberapa peristiwa yang ditemui oleh penulis jika dikaitkan dengan mata kuliah tersebut. Diantaranya adalah adanya pembenturan kebenaran oleh beberapa kelompok, kurang efektifnya metode mengajar guru di madrasah, proses golbalisasi, dinamika komunitas agama, hingga konspirasi yang ada di dunia internasional pasca digulirkannya era globalisasi.
Penulis menemukan sejumlah temuan data terkait istilah kunci seperti pendidikan karakter, pendidikan tanpa kekerasan, media maya sebagai sumber pembelajaran, media rumahan, bentuk kesalehan di kampus, salah paham mengenai tasawuf, dan konservasi lingkungan. Sejumlah istilah ini sering digunakan oleh beberapa pihak untuk saling berkonflik (kurikulum yang memberatkan pada tugas administrasi daripada mengajar, salah makna hukuman fisik oleh guru ketika anak bandhel, plagiarism, labeling bid’ah pada perjalanan spiritual para sufi oleh mahasiswa, eksploitasi pada alam). Padahal seharusnya istilah-istilah di atas dapat dicarikan solusinya sehingga kehidupan manusia mendekati makna maslahat (menuju masyarakat terdidik dan madani). Dalam Majalah Islami al-Kisah No. 11/Tahun VIII/31 Mei-13 Juni 2010 (halaman 27) dijelaskan bahwa jika kita mau belajar dengan kembali di masa lalu, para ulama’ menampilkan perbincangan yang sarat perbedaan pendapat namun tidak ada caci maki, saling ejek atau saling tuduh ahli bid’ah. Sebab masing-masing sadar bahwa setiap ulama’ memiliki dasar argument. Meskipun lebih meyakini kekuatan argumentasi sendiri, mereka tetap menghormati pendapat ulama’ lain. semakin tinggi ilmu mereka, semakin tawadlu’ jiwa mereka.
Maka dari itu, penulis hendak menyodorkan beberapa pertanyaan yang akan penulis telusuri jawabannya. Tentunya, dengan pembatasan masalah sebagai berikut:
B.     Rumusan Masalah
Pertanyaan yang akan penulis batasi dalam problem saat ini adalah berkisar pada sebuah kalimat: “Bagaimana Studi Islam menjawab permasalahan labeling bid’ah pada pemaknaan tasawuf, pendidikan karakter dan media maya sebagai sumber pembelajaran, bentuk kesalehan di kampus konspirasi media internasional dan urgensinya terhadap kehidupan seorang muslim?”
C.     Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini bermaksud sebagai pelurusan metode berpikir, bertindak dan beraktualisasi terhadap dinamika masalah kehidupan baik di lingkungan madrasah, kampus maupun rumah/masyarakat bagi manusia ke depannya.
D.    Metodologi dan Pendekatan
Metodologi yang penulis gunakan dalam memberikan solusi terhadap problem-problem di atas adalah kualitatif dengan pendekatan filosofis-humanisme teistik.
E.     Hasil Temuan Penelitian

Sabtu, 09 Desember 2017

lanjutan cerpen

1.      Pagi Anugerah
Pagi itu benar-benar cerah secerah wajah Abdul yang senantiasa tersenyum karena bangga-bahagia. Siratan mega merah di pojok langit dengan manik-manik awan putih tipis menandakan bahwa fajar telah tiba. Tetapi tidak begitu bagi hati Abdul: hatinya penuh awan putih bersih. Perjalanan menuju gedung serba putih di pinggir selasar Tawangmangu benar-benar membuatnya waspada. Sesekali dia menarik nafas panjang. Ini pertama kalinya baginya menuju gedung itu semenjak kepulangannya dari Iran pasca mengakhiri studi S3 dan riset ilmiahnya di sana. Jalan Karanganyar-Solo memang selalu macet di pagi hari apalagi hari awal aktivitas, Senin. Seakan-akan jalan dipadati oleh bebek-bebek matic dan juga kijang besi alias mobil.
Sedikit-sedikit lampu lalu lintas menyala. Menyetop dan melancarkan perjalanan. Harus tengok kanan-kiri karena banyaknya perempatan yang memungkinkan adanya kecelakaan. Baik ringan maupun berat. Pernah dua atau tiga kali kecelakaan terjadi dalam satu hari di jalan yang sama. Maka resep perjalanan yang baik adalah memakai helm bagi kendaraan roda dua atau sabuk pengaman bagi mobil dan tentunya berdo’a sebelum berangkat. Insya Allah  tuhan akan melancarkan perjalanan kita ketika hati dipenuhi oleh selimut tawakkal pada-Nya. Apalagi jika masih tinggal bersama kedua orangtua, tidak ada salahnya jika berpamitan. Karena mereka akan memberikan do’a selamat bagi putra-putrinya.
Jarak yang tidak begitu jauh dari yayasan memang menjadi kesenangan tersendiri bagi Abdul untuk mengantar sang Pujaan Hati menuju medan jihad. Tempat parkiran yang luas sangat representatif bagi keduanya untuk berjalan berdua dengan romantisnya. Sehingga tidak ada satupun yang akan mengganggu perjalanan cinta mereka.
Tangga-tangga menuju ruang utama dengan bangsal-bangsal yang bersih nan putih. Naluri Abdul mengucapkan bahwa nanti akan hadir sang malaikat penjaga. Berbaringlah Anna di kasurnya lalu terdengar suara langkah suster berbaju putih. Warnanya seperti dinding dan bangsal-bangsal tadi.
Tarikan nafas yang terengah-engah dan perjuangan tiada akhir dilakukan Anna. Akhirnya lahirlah dua putra-putri kembar. Bersih tanpa dosa. Senyuman syukur tergambar di wajah kedua orang tua. Seorang bapak dan ibu muda.
“Kini aku menjadi seorang ayah!” teriak Abdul dengan puasnya.
“Benar aku kini menjadi ibu, hahaha.” Kata Anna menyahut.
“Aku menjadi seorang ayah, Alhamdulillah Ya Allah.” Kata Abdul sekali lagi.
“Dan aku menjadi ibu, mas. Hemm... sepertinya akan tambah menyenangkan!” seru Anna. Matanya mengerjap-ngerjap, berbinar bahagia.
Abdul segera bersujud syukur tiga kali sambil bertakbir lirih saking bahagianya.
Akhirnya yang dinanti-nantikan datang juga. Abdul menimang bayi. Kembar lagi. Betapa bahagianya mereka berdua. Sebuah kisah baru sang bayi dan kisah yang indah bagi kedua orang tuanya.

2.      Hari Duka
Kebiasaan jika Abdul merasakan gerah atau galau pasti akan

makalah S2 Manajemen PAI: Metodologi Penelitian Pendidikan Analisis Data

BAB I
PENDAHULUAN
I.                   Latar Belakang Masalah
Dalam membuat penelitian terdapat tahap-tahap yang harus dilalui. Seperti: merumuskan masalah, merumuskan tujuan penelitian, memilih jenis penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, sistematika penulisan penelitian dan menyimpulkan hasil penelitian. Hal-hal tersebut adalah langkah-langkah yang bertujuan agar dapat diakui sebagai hasil penelitian dan dapat menjadi rujukan bagi penelitian yang baru.
Sebagai mahasiswa, khususnya mahasiswa strata dua, diharapkan dapat menghasilkan riset yang berbobot dan layak dipublikasikan di jurnal ilmiah. Baik yang sudah terakreditasi maupun belum, baik yang berskala nasional maupun internasional. Menurut Maslikhah (2013: 47), Seorang mahasiswa S2 juga harus mampu membuat thesis yang sifatnya lebih mendalam dibandingkan skripsi, mengungkapkan teori baru dengan menguji satu atau lebih hipotesis untuk mendapatkan gelar magister. Maka untuk mengkaitkan antara hipotesis dengan temuan data dan teori, sangat diperlukan pemahaman yang baik mengenai salah satu tahap penelitian yaitu analisis data. Dalam makalah ini, akan dipaparkan secara urut apa saja yang menjadi bagian dari analisis data dan bagaimana kiat-kiat membuat analisis data yang ilmiah dan dapat diterima sebagai hasil penelitian.
II.                Rumusan Masalah
1.      Apa saja rincian yang terdapat pada tahap analisis data?
2.      Bagaimana cara membuat analisis data yang tepat dan baik pada sebuah penelitian?
III.             Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui dan mengkaji secara mendalam mengenai hal-hal yang yang harus diperhatikan terkait pada analisis data pada suatu penelitian.
2.      Untuk mengetahui dan mengkaji secara mendalam proses analisis data pada sebuah riset penelitian.















BAB II
 Pembahasan

A.    Pengertian dan Maksud Analisis Data Penelitian
Tahapan akhir dari sebuah penelitian baik dalam bentuk jurnal, skripsi maupun tesis adalah analisis data. Analisis data adalah

Sabtu, 18 November 2017

makalah S2 PAI studi pemikiran tokoh: Nader Hashemi mengenai demokrasi liberal berbasis moral agama



Studi Islam: Review Buku Islam, Sekularisme, dan Demokrasi Liberal
A.    Latar Belakang Masalah
Akhir-akhir ini, khususnya di akhir abad ke dua puluh dan awal abad ke dua puluh satu, kita mengenal problem besar di dunia Islam yaitu penataan demokrasi. Demokrasi dengan varian liberalnya (sebagaimana yang dipahami selama ini oleh Barat) masih diperdebatkan oleh sejumlah kalangan muslim.
Menurut penyusun makalah, Ada beberapa orang (khususnya di Indonesia) yang mengakomodir demokrasi, ada pula yang menolak secara subjektif dan ada pula yang menolak secara mentah-mentah. Bagi yang mengakomodir demokrasi, maka demokrasi dengan segala variabelnya dipakai dan diterapkan secara perlahan. Dikembangkan dan direvisi sedemikian rupa sehingga berakhir pada kesimpulan bahwa demokrasi ini adalah pilihan yang baik mengingat dinamikanya juga bersifat positif.
Bagi yang menolak secara subjektif, mereka menganggap bahwa konsep demokrasi belum menyentuh pada tujuannya yaitu untuk rakyat. Demokrasi dinilai belum memaslahatkan rakyat seluruhnya. Terkadang malah menjadi hujatan, guyonan di warung kopi dan juga refleksi bahwa demokrasi ini sangat kontras dengan peninggalan leluhur yang bersifat monarki. Yang dinilai lebih fleksibel dalam menanggapi problematika rakyat. Karena sistem kerajaan dinilai mampu beradaptasi dengan wahyu dan menampilkan perilaku moral para pejabatnya sehingga dapat diteladani oleh rakyat demi pembangunan masa depan. Dalam hal ini, rakyat belajar dari masa lalu untuk memperbaiki masa depan.
Sementara bagi yang menolak secara mentah-mentah, demokrasi dianggap tidak cocok untuk diterapkan di negeri muslim karena berasal dari Barat yang notabene berseberangan dengan Timur. Kalangan ini biasanya menganggap tradisi telah memberikan sumbangsih positif yang tak dapat diganggu gugat. Kalangan ini menganggap modernisasi tidak diperlukan karena banyaknya kemudlaratan yang dijumpai dari tahun ke tahun. Seperti perilaku korupsi, nepotisme, saling menumbangkan dan berkuasa demi uang.
Menanggapi perdebatan ini, Nader Hashemi menyuguhkan teori yang cukup baik untuk dipahami bersama mengenai demokrasi liberal. Dia memberikan penjelasan cukup hati-hati dalam menafsirkan hubungan antara agama dengan demokrasi liberal. Agama yang dianggap tak perlu mengurusi pemerintahan. Namun bagi Nader Hashemi, agama justru dapat berperan aktif dalam pengkajian politik demokrasi dan menata ulangnya.
B.     Problem Penelitian
Demokrasi liberal memerlukan sebentuk sekularisme untuk menjaga eksistensinya. Namun sumber daya politik, kultural dan intelektual masih bersifat teologis. Paradoks ini terjadi dan menjadi perdebatan bagi para teoretikus demokrasi. Nah bagaimanakah cara membongkar paradoks ini dengan menggunakan pendekatan yang metodologis?
Penegasan Istilah
1.      Sekulerisme terdiri dari dua kata; sekuler yang berarti pemisahan antara yang transenden dengan hubungan antara manusia satu dengan manusia yang lain. Dan isme yang berarti paham. 
2.      Demokrasi terdiri dari dua kata; demos yang artinya rakyat dan kratos yang artinya kekuasaan. Sehingga dapat diartikan sebagai kekuasaan dan penyelenggaraan negara berada di tangan rakyat, untuk kepentingan rakyat.
3.      Liberal artinya pembebasan dari cara berpikir dan berperilaku. Jika dikaitkan dengan Islam, menurut Baidhawy (2011:230), istilah liberal berarti pembebasan cara berpikir dan berperilaku keberagamaan yang menghambat kemajuan. Islam liberal dalam hal ini mengakomodir peran Barat tetapi mengeliminir dampak buruk dari modernisasi.
Hal ini sedikit berbeda dengan pemikiran Hasan Hanafi mengenai oksidentalisme yang tetap teguh pada tradisi tetapi juga menerima modernisasi dengan dikaitkan dengan realitas kehidupan.

C.    Kontribusi Penelitian: Tujuan Penulisan Buku
Penulisan buku yang dilakukan oleh Nader Hashemi ini adalah untuk mengkaji relasi teori agama dan demokrasi (dalam hal ini Islam dengan demokrasi liberal), relasi antara agama, sekulerisme, demokrasi untuk pengembangan teori liberal, demokrasi untuk masyarakat muslim.
Dia menyatakan bahwa demokrasi liberal memerlukan sekularisme untuk menjaga kesinambungan, akan tetapi sumber daya politik, kultural, intelektual para demokrat muslim masih bersifat teologis (Hashemi, 2011:1). Demokrasi yang di dalamnya terdapat sekularisme harus secara alamiah berasal dari rakyat untuk kemudian diusung ke pemerintahan, bukan malah sebaliknya (up to down). Jalan menuju demokrasi liberal harus melalui politik keagamaan.
Demokratisasi dan liberalisasi mensyaratkan penafsiran ulang terhadap gagasan keagamaan dengan memperhatikan dasar moral dari otoritas politik dan hak-hak individu yang sah (dia menyatakan bahwa variabel agama mempengaruhi demokratisasi dan liberalisasi) (Hashemi, 2011:3).
Selama ini seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa para pengusung sekuler dianggap memisahkan agama dari ranah perpolitikan atau agama itu tidak perlu ikut campur dalam pembuatan kebijakan pemerintah ataupun mengawasi secara langsung kinerja pemerintah. Sementara pihak Barat mengkhawatirkan Islam akan mengganggu perkembangan demokrasi liberal pasca peristiwa 11 September 2001 (runtuhnya gedung World Trade Center). Secara konteks pemikiran, ini merupakan hasil dari fanatisme agama dan Barat menyimpulkan bahwa Islam itu negatif. Data menunjukkan pasca peristiwa 11 September 2001, 43 % penduduk Amerika berprasangka negatif tentang orang-orang Arab (diambil dari Washington Post, 9 Maret 2006) (Hashemi, 2011:31).
 Connor O’Brien, seorang penyair Irlandia mengatakan bahwa masyarakat Islam terlihat sangat menjijikkan (Hashemi, 2011:32). Hal ini menjadikan salah satu dasar tulisan mengapa Islam dianggap sebagai poros konflik pasca perang dingin. Terlebih, selama ini tatanan demokrasi dianggap lebih bersifat duniawi, dapat direvisi dan diperbaiki demi kemaslahatan manusia. Sementara agama lebih bersifat transendental (peran manusia tidak berlaku). Sehingga agama harus menjauh dari demokrasi. Padahal, kita dapat melakukan kompromi antara demokrasi liberal dengan agama yakni berbentuk sekularisme politik yang berbasis agama, sebagaimana yang dipikirkan oleh Nader Hashemi.
Maka yang perlu dilakukan adalah

Lanjutan cerpen: Catatan Harian Muslim



Langkah-Langkah yang Hilang di Tanah Para Wali
Ternyata waktu tiga tahun benar-benar berjalan cepat laksana kilat mencambuk lazuardi. Ana sudah tumbuh sebagai gadis yang periang dan tekun beribadah. Ia sering duduk di pematang sawah seraya menghafalkan Surat Yasiin. Jadi dia lebih dewasa daripada teman-teman seusianya. Sementara teman-temannya sibuk bermain-main dengan padi yang menguning-emas. Cantik sekali pemandangan saat itu. Dari jauh Pak Abdul tampak sedang berbincang-bincang dengan Habib Yahya, ulama’ dari Kota Karanganyar. Sepertinya percakapan keduanya terlihat serius.
“Bagaimana ikhwani, sepakatkah ente sejenak meninggalkan negeri ini untuk menemani ane dan adik ane ke Tarim? Disana hanya empat tahun. Insya Allah barokah. Abah juga sepakat akan hal ini..” kata Habib.
“Waduh bagaimana ya Bib, sebenarnya hijrah ke Tarim memang sudah impian saya sejak MA dulu. Akan tetapi nanti siapa yang akan mengurus yayasan. Apalagi para ustadz sudah berusia lanjut. Saya khawatir para santri jadi keteteran[1] dalam menuntut ilmu disini. Di sisi lain, saya juga mboten gadhah artha kangge mrika”[2]. Jawab Pak Abdul polos. Dia menjawab permintaan sang habib dengan sepresisi mungkin. Sekilas beliau melayangkan pandangan ke pematang sawah. Tampak anak-anak yang tidak berdosa, bahagia dengan permainannya. Tak terkecuali dengan Ana yang sedari tadi membaca Al-Qur’an kecilnya.
“Sudah ente nggak usah khawatir soal administrasi. Semua sudah ane urus. Tinggal kita berangkat ke bandara besok.”  Kata Habib Yahya meyakinkan. Mata Pak Abdul mengerjap-ngerjap, berbinar senang. Tetapi dia kembali tenang, menyadari siapa dia.
Pak Abdul menoleh kembali. “Ijinkan saya istikharah malam ini, bib.” Lanjut Pak Abdul.
“Oh, na’am. Fathob’an. Ane tunggu jawaban ente lusa, ya!” sahut Habib Yahya dengan senyumnya yang hangat.
Pak Abdul hanya tersenyum lalu memandang Ana nan jauh disana. “Nduk, mungkin kamu akan dibimbing oleh Mas Musyafa’ dulu. Aku akan kembali 4 tahun lagi.” Katanya dalam hati. Pak Abdul berjalan masuk ke kamarnya. Angin semilir masuk melalui sela-sela jendela kamar. Pak Abdul duduk di kursinya yang mulai reyot karena sering terkena semprotan air hujan yang berhasil lolos masuk ke kamar. Ia merenungkan keputusannya akan menjawab lusa kepada Habib. Ia resah, galau. Maka ia menghadap kiblat seraya berdo’a, “Ya Allah, kumohon bangunkan aku jam tiga malam nanti!”
Malam yang dipenuhi oleh bintang itu tidak mampu menghibur kegalauan Pak Abdul. Sedari tadi ia bolak-balik di ruang tamu. “Hah, kalau mondar-mandir saja, tentu tidak menyelesaikan masalah. Aku harus mencari ide, tapi apa..?” Kiai. Ya kiai adalah salah satu kata yang terlintas di pikirannya mungkin itulah solusinya. Segera ia keluar rumah menuju kediaman K.H. Samanhudi, seorang usatdz yang mengajarkan ilmu tasawuf di pesantren itu. Khususnya pengkajian kitab Al-Hikam. Ia percaya jika beliau dapat memberikan solusi terbaik baginya.
“Assalamu’alaikum!” tampak Kiai Samanhudi sedang duduk di teras sambil membaca dzikir ma’tsurat dan Ratibul ‘Athash.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. “ Setelah selesai membaca do’a fatihah, Kiai Samanhudi segera ke teras. Melihat siapa yang hadir ke rumahnya.
“Oh, Gus Abdul tho! Mari-mari duduk sini.” Sambut Kiai Samanhudi dengan ramahnya. Pak Abdul segera mendekat, menundukkan diri pada sang kiai dan mencium tangannya. “Sini duduk sini. Ada yang dapat saya bantu, gus?. Ada apa ya, pagi-pagi kemari? Tak biasanya kamu kemari sepagi ini.” Tanya kiai dengan menunjukkan kursi rotannya agar Pak Abdul duduk.
“Emm, begini kiai…” kata Pak Abdul memulai pembicaraan. Ia tampak kusut dan lelah. Maklum usai keliling sawah nan luas kemarin bersama Habib Yahya. “Sebentar, Nyai…kopi buat Gus Abdul!” panggil kiai pada isterinya di dalam bilik.
“Nggeh, bah! Gus Abdul kemari tho?” Tanya Bu Nyai dari dalam rumah. Suara kepulan air mendidih tampak sayup-sayup dari teras. “Njih, Nyai niki kulo[3].” Jawab Pak Abdul tegas.
“Lanjutkan Gus..!” perintah Kiai. “ Begini kiai, Habib Yahya mengajak saya untuk menemani beliau ke Tarim, Yaman. Katanya disana empat tahun. Saya khawatir yayasan yang kita dirikan bersama tidak berjalan mulus seperti sekarang. Kiai tahu sendiri kan jika pemuda-pemudi tidak digerakkan untuk mengelolanya, maka yayasan ini akan dikelola oleh para kiai sepuh dimana SDM nya kurang menguasai teknologi.”
“Lalu, tujuanmu kemari?” Tanya Abah penasaran. Tampak Bu Nyai membawakan dua cangkir kopi yang diletakkan di atas nampan berwarna merah muda.
“Ini kopi jahenya diminum dulu, mumpung masih panas. Biar anget badannya.” Kata Bu Nyai menyela pembicaraan Pak Abdul dan Pak Kiai.
“Njih, Bu! Terimakasih sekali!” kata Pak Abdul seraya tersenyum simpul.
Pak Abdul menunggu hingga Bu Nyai ke dalam rumah. Dia menoleh kembali ke Pak Abdul yang tampak kikuk di hadapannya.
 “E…saya minta