Sabtu, 24 Februari 2018

lanjutan novel: Romansa Cinta

Ahmad Tohari, dulu nama kecilnya adalah Jarot. Jarot dalam kamus Jawa Kawi berarti perkasa, kuat. Karena sejak lahir, tulang yang menyusun tubuhnya besar dan dia juga dianugerahi daging yang tebal. Seperti ikan tongkol dalam bahasa ikan. Masa kecil Jarot begitu menyenangkan. Dia sering dibelikan mainan kesukaannya mulai dari truk pasir dari kayu, layang-layang, kelereng, bola sepak hingga robot yang mampu berjalan sendiri. Belum ada mobil remote control ketika itu, tetapi mobil dengan baterai sudah cukup menghiburnya ketika itu. Dia juga sering diajak jalan-jalan ke kebun binatang, candi-candi dan juga wisata air oleh orang tuanya. Sayangnya, sejak pertengkaran antara ayah dan ibunya memuncak (masalah nafkah kurang karena terbiasa hidup mewah dan terguncang krisis moneter ‘98), kebahagiaan Jarot tercerabut hingga ke akarnya. Yang Jarot dengar di rumahnya hanyalah cek-cok yang tiada habisnya. Piring-piring yang jatuh akibat dibanting dari rak ke lantai. Luka goresan atau tamparan yang melayang di pipi ibunya sering dia lihat. Bahkan terkadang dia juga menjadi korban penganiyaaan. Membuat Jarot remaja mengambil kesimpulan bahwa dia harus mendapatkan cinta, apapun jalan yang harus ditempuh olehnya.
Maka dalam perjalananan hidupnya sampai orangtuanya diceraikan oleh pihak pengadilan, dan dia dititipkan di pesantren Al-Huda, dia mencoba untuk cari perhatian dengan segala usaha. Mulai dari menjadi tukang cuci pakaian santri hingga menjadi tukang kebun seperti sekarang ini. Pekerjaan yang dijalaninya hingga kini mengantarkan dia melihat sekaligus mengenal Umi Kulsum dari jauh, gadis idaman hatinya itu.
Jarot, menurut Abah adalah nama yang kurang pas untuk pribadi lembut seperti dia. Dia sering membantu santriwati menyiram bunga mawar di depan teras pesantren. Dia juga sering membawakan belanja berupa sayuran dan sembako jika Neng Fatimah tampak letih. Dia juga sering membantu abah untuk mengisi air di bak mandi santri putri. Meski begitu, dia tidak pernah mengaji bersama para santri lain dan tidak pernah menaruh hati pada Neng Fatimah. Baginya, mungkin aib jika mencintai putri abah.
Maka di suatu hari yang baik karena membarengi hajatan akhirussanah pesantren, Abah Rasyid memberikannya nama: Ahmad Tohari agar menjadi pribadi yang mulia dan terpuji. Tetapi apakah dia akan seperti yang diinginkan oleh abah berdasarkan namanya yang bagus itu? Wallohu a’lam. Setiap orang berharap dia akan menjadi anak yang baik.

1.      Dari Kantin Pesantren hingga ke Kamar Mandi

Warung makan Bang Tegar senantiasa menjadi gula bagi semut-semut kecil yang imut itu. Termasuk aku yang menjadi ghonthengnya. Karena keenakan dan kesedapan resep masakannya, Bang Tegar juga terkenal ramah dan penuh perhatian terhadap masalah-masalah yang lagi ngehits di kalangan pelajar atau pemuda/i. Apa itu? Cinta. Aku sering curhat padanya. Tidak lain yang kubicarakan adalah dua gadis yang ada di sekitarku, mereka adalah Neng Fatimah dan Dik Umi. Akan tetapi aku lebih sering cerita tentang Neng Fatimah. Karena bagiku, Dik Umi hanyalah